1. Populasi
1). Definisi populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (http://asprosbinareka.com/info.php?act=artDet&id=128)
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono,2002:57)
Poulasi adalah keseluruhan subjek penelitian (suharsimi,2006:130).
Kesimpulan dari 3 definisi populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek (misalnya manusia,pasien)yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya .
2). Syarat populasi
Menurut Usulan penelitian safitri sayogo di unduh tanggal 25 agustus 2009 (http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/ca8ddcbed8eadfc7fa464bcb23f25c9e70ef3df4.pdf)
Syarat-syarat dari populasi adalah sebagai berikut:
(1) Meliputi seluruh unit sampel
(2) Batas jelas
(3) Sampel tidak dihitung dua kali
(4) Up to date
(5) Dapat dilacak di lapangan
3). Jenis populasi
Menurut Nursalam ( 2003:93 ) jenis populasi antara lain :
(1) Populasi target
Adalah populasi yang memenuhi sampling criteria yang menjadi sasaran akhir penelitian menurut polit dan hungler (1999) populasi target bersifat umum, dan biasanya pada penelitian klinis dibatasi oleh karakteristik demografis (meliputi jenis kelamin, usia).
(2) Populasi terjangkau
Adalah populasi yang memenuhi criteria dalam penelitian dan biasanya dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya.
Dalam artikel dengan judul populasi dan sampel dalam penelitian di alamat http://arifkurniawan045.blogspot.com/2007/12/populasi-penelitian.html, jenis populasi adalah sebagai berikut:
(1) Populasi Terbatas
Populasi terbatas mempunyai sumber data yang jelas batasnya secara kuantitatif sehingga dapat dihitung jumlahnya.
(2) Populasi tak terbatas
Populasi tak terbatas yaitu sumber datanya tak dapat ditentukan batas-batasnya sehingga relatif tidak dapat dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah.
2. Sampel
1) Definisi Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono,2002:57)
Sampel adalah terdiri dari bagian poppulasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (nursalam,2003:95)
Sampel adalah sampel sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang ditiliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo notoadmojo 2002:79)
Kesimpulan definisi dari sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling dan dianggap mewakili seluruh populasi
2) Syarat-syarat Sampel
Menurut nursalam (2003:95) pada dasarnya ada 2 syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan sampel, yaitu
(1) Representative
Sampel yang representative adalah sampel yang dapat mewakili populasi. Untuk memperoleh hasil atau kesimpulan penelitian yang menggambarkan kaeadaan populasi penelitian, maka sampel yang diambil harus mewakili populasi yang ada. Untuk itu dalam “sampling” harus direncanakan dan jangan asal mengambil.
(2) Sampel harus cukup banyak
The more sample, the representativeness the result of the research will be. Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili kalau jumlah kurang memenuhi maka kesimpulan hasil penelitian kurang atau bahkan tidak bisa gambaran tentang populasi. Yang sesungguhny. Sebenarnya tidak ada pedoman umum yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel untuk suatu penelitian. Besar kecilnya jumlah sampel sangat di pengaruhi oleh design dan ketersediaan subjek dari penelitian itu sendiri. Polit dan hungler (1993) menyatakan bahwa semakin beasar sampel yang dipergunakan semakin baik dan representative hasil yang diperoleh dengan kata lain semakin besar smpel semakin mengurangi angka kesalahan. Prinsip umum yang berlaku adalah dalam penelitian digunakan dalam jumlah sampel sebanyak mungkin namun demikian penggunaan sampel sebesar 10 -20% untuk subjek dengan jumlah lebih dari 1000 dipandang sudah cukup. Makin kecil jumlah populasi, presentasi sampel harus semakin besar.
Menurut ( home.unpar.ac.id/~hasan/SAMPLING.doc ) syarat sampel yang baik adalah:
(1) Akurasi atau ketepatan
Yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan adalah populasi. Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance” yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis
(2) Presisi
Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.
3) Kriteria sampel
Menurut nursalam (2003:97) kriteria sampel dibagi menjadi 2 yaitu, antaralain :
(1) Kriteria inclusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti.Pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman dalam menentukan kreteria inklusi. Misalnya kita akan meneliti tentang pengaruh mobilisasi pada pasien pasca operasi terhadap percepatan peristaltik usus ,maka yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam kriteria inklusi adalah jenis anastesi yang dilakukan ,umur pasien, karena kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi dari hasil intervensi yang dilaukan
(2) Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi criteria inklusi dari studi karena berbagai sebab antara lain :
1. Terdapat keadaan atau penyakit yang mengganggu pengukuran maupun interpretasi hasil,misalnya dalam studi komparatif(kasus kontrol ) yang mencari hubungan suatu faktor resiko dengan kejadian penyembuhan luka pasca operasi laparastomi,maka subjek dengan kelainan imonologis tidak boleh diikutsertakan dalam kelompok kasus.
2. Terdapat keadaan yang mengganggu kemammpuan pelaksanaan, seperti subjek yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap sehingga sulit di tindak lanjuti
3. Hambatan etis
4. Subjek menolak berpartisipasi
Penetapan Kriteria sample ( inkulsi dan eksklusi ) di perlukan dalam upaya untuk mengendalikan variable penelitian yang tidak diteliti, tetapi ternyata berpengaruh terhadap variable dependen.
4) Cara menghitung besar sampel
Dengan pengetahuan tentang presisi, selang kepercayaan, dan tingkat kepercayaan, sekarang kita dapat menghitung besarnya sampel. Ukuran sampel ditetapkan dengan rumus:
(Z S)2
n =
d2
Dimana Z adalah koefisien reliabilitas (1,65 untuk 90%, 1,96 untuk 95%, dan 2,58 untuk 99%) S adalah standar deviasi, dan d adalah nilai presisi.
Misalnya, kita ingin menduga rata-rata kecerdasan mahasiswa dengan presisi 5 point dan reliabilitas 99,7% (hampir pasti). Berapa ukuran sampel yang kita perlukan? Untuk itu, kita harus lebih dahulu rnengetahui standar deviasi populasi. Bila ini tidak diketahui, kita mencari standar deviasi dari sampel penelitian terdahulu atau dari sampel percobaan yang kita lakukan. Katakanlah, kita mendapat angka standar deviasi 14 point. Ukuran sampel, dengan demikian, diperoleh sebagai berikut:
(Z S)2
n =
d2
(3 x 14)2
n =
25
= 207
Cara lain untuk menghitung ukuran sampel didasarkan pada pendugaan proporsi populasi. Misalnya, berapa persen dari populasi menonton televisi, berapa persen tidak.
Rumus yang sederhana untuk ini ialah (Yamane, 1967:99):
N
n =
N(d)2 + 1
Menentukan besar sampel menurut nursalam (2003:96)
o jika besar populasi ≤ 1000, maka sampel bisa di ambil 20 – 30 %
o jika besar populasi < 1000, maka
N.z2p.q
n =
d (N-1)+ Z.p.q
keterangan : n = perkiraan jumlah sampel
N = perkiraan besar populasi
Z = nilai standard normal untuk α=0.05 (196)
p = perkiraan proporsi, jika tidak di ketahui dianggap 50%
q = 1-p (100%-p)
d = tingkat kesalahan yang dipilih (d=0.05)
5) Macam –macam tehnik sampling
Menurut ( home.unpar.ac.id/~hasan/SAMPLING.doc ) Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling.
(1) Probability Sampling
Setiap elemen dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai subyek dalam sampel. Representatif ini penting untuk generalisasi
1). Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :
1) Susun “sampling frame”
2) Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
3) Tentukan alat pemilihan sampel
4) Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi
2). Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan
Jika peneliti memiliki informasi tambahan bahwa populasi sebenarnya terdiri dari beberapa subpopulasi atau strata, maka stratified sampling lebih cocok untuk memilih sampel penelitian. Sebagai contoh, penelitian akan dilakukan terhadap peserta kelas metodologi penelitian sosial yang semuanya berjumlah 80 orang. Informasi tambahan bagi peneliti adalah bahwa dari 80 orang tersebut 60 orang adalah perempuan dan sisanya laki-laki. Jika peneliti menganggap informasi ini penting untuk analisa, maka stratified sampling lebih cocok digunakan untuk memilih sampel. Prosedur penggunaan stratified sampling adalah sebagai berikut, pertama, peneliti membagi populasi kedalam beberapa subpoplasi atau strata berdasarkan informasi yang didapat. Kedua, peneliti merumuskan sampling frame pada masing-masing subpopulasi atau strata. Ketiga, peneliti memilih sampel pada masing-masing subpopulasi atau strata dengan menggunakansimple ra ndom atau systematic sampling. Dalam pemilihan sampel ini, proporsi jumlah sampel antar strata adalah sama dengan proporsi jumlah elemen antar strata. Dengan demikian, jika telah ditetapkan bahwa 20 orang akan dipilih sebagai sampel penelitian pada kelas metodologi penelitian social yang jumlah elemennya adalah 80 orang, maka perbandingan jumlah sampel antara perempuan dan laki-laki adalah 60:20. Berdasarkan proporsi tersebut, selanjutnya diperoleh sampel untuk perempuan adalah 15 orang dan untuk laki-laki adalah 5 orang. Terkadang seorang peneliti memilih sampel dengan tidak melihat proporsi tersebut, sebagai contoh, pada kasus diatas ia memilih sampel laki-laki sejumlah 10 orang. Dalam kondisi demikian, maka hasil analisis tidak dapat digeneralisasikan secara langsung terhadap populasi tersebut. Selanjutnya, agar hasil analisis dapat digeneralisasikan, peneliti perlu melakukan pembobotan (weighting). Dalam contoh tersebut, karena jumlah sampel laki-laki dilipatduakan, maka jumlah sampel perempuan juga perlu dilipatduakan. Hasil akhir setelah pembobotan, jumlah sampel perempuan adalah 30 orang dan jumlah sampel laki-laki adalah 10 orang.
3). Cluster Sampling atau Sampel Gugus
Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :
1) Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.
2) Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel
3) Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak
4) Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample
4). Systematic Sampling atau Sampel Sistematis
Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”. Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :
1) Susun sampling frame
2) Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil
3) Tentukan K (kelas interval)
4) Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.
5) Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.
6) Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya
5). Area Sampling atau Sampel Wilayah
Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :
1) Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.
2) Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)
3) Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.
4) Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.
5) Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.
(2) Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak
Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.
1). Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.
Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini, hasilnya ternyata kurang obyektif.
2). Purposive Sampling
Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.
3). Snowball Sampling – Sampel Bola Salju
Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan dari penyusunan makalah ini,maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut
1) Definisi Populasi
populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek (misalnya manusia,pasien)yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya .
2) Syarat Populasi
(1) Meliputi seluruh unit sampel
(2) Batas jelas
(3)Sampel tidak dihitung dua kali
(4)Up to date
(5)Dapat dilacak di lapangan
3) Jenis Populasi
(1) Populasi target
(2) Populasi terjangkau
4) Difinisi Sampel
sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling dan dianggap mewakili seluruh populasi
5) Syarat Sampel
(1) Representative
(2) Sampel harus cukup banyak
6) Kreteria Sampel
(1) Criteria Inclusi
(2) Creteria Eksklusi
7) Cara Menghitung besar Sampel
N.z2p.q
n =
d (N-1)+ Z.p.q
keterangan : n = perkiraan jumlah sampel
N= perkiraan besar populasi
Z= nilai standard normal untuk α=0.05 (196)
p= perkiraan proporsi, jika tidak di ketahui dianggap 50%
q= 1-p (100%-p)
d = tingkat kesalahan yang dipilih (d=0.05)
8) Macam Tehnik Sampling
1. Probability Sampling
2. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak
2. Saran
1. Bagi penulis makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk menambah pengetauan tentang sampel dan populasi dalam penelitian
2. Bagi Institusi Pendidikan, makalah ini diharapkan dapat menjadi tambahan kepustakaan tentang populasi dan sampel dalam penelitian serta sebagai acuan dalam nilai tugas mata kuliah Pengantar Riset Keperawatan
3. Bagi Pembaca Makalah ini dapat diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk menambah pengetauan tentang populasi dan sampelm dalam hal penelitian
Daftar Pustaka
Brink, J Pamela. 1998. Langkah Dasar Dalam Perencanaan Riset Keperawatan. EGC : Jakarta
Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika : jakarta
Sugiyono. 2002. Metode penelitian administrasi.Alfabeta : Bandung
Arikonto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Rinika Cipta : Jakarta
PT asprosbinareka, (2008). Populasi, sampel dan tekhnik sampling, http://asprosbinareka.com, diunduh pada 25 Agustus 2009 jam 15.00 WIB
Savitri sayogo, (2009). usulan penelitian, http://repository.ui.ac.id, diunduh pada 25 Agustus 2009 jam 15.00 WIB
Arif Kurniawan, (2007).populasi penelitian, http://arifkurniawan045.blogspot.com, diunduh pada 25 Agustus 2009, jam 15.00 WIB
Youda, (2008). Tekhnik pengambilan sampel, http://youda.wordpress.com/2008/11/13/teknik-pengambilan-sampel/, diunduh pada 25 Agustus 2009, jam 15.00 WIB
LAMPIRAN
1. Populasi
Contoh populasi :
(1) populasi target
Misalnya, kita mempunyai populasi target pada pasien DM di Surabaya.
(2) populasi terjangkau
Mislnya, semua pasien DM yang menjadi anggota askes di Surabaya. Peneliti biasanya menjadi dampel pada populasi target tersebut dan di harapkan dapat di pergunakan untuk mewakili kelompok pasien DM yang ada di Surabaya
(3) populasi terbatas
a. Jumlah penduduk kota Bandung 2.500.000 jiwa.
b. Jumlah 1000 guru SD di Yogyakarta mengikuti prajabatan.
(4) Populasi tak terbatas
Suatu percobaan seorang bandar akan melemparkan sepasang dadu sampai tak terhingga kali lemparannya. Maka setiap kali mencatat sepasang bilangan yang muncul akan mendapatkan sepasang nilai yang tak terhingga pula.
2. Sampel
1) Contoh Penulisan Sampel
(1) Akurasi atau ketepatan
Contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis
(2) Presisi
Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.
2) Creteria Sampel
(1) Inklusi
Misalnya kita akan meneliti tentang pengaruh mobilisasi pada pasien pasca operasi terhadap percepatan peristaltik usus ,maka yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam kriteria inklusi adalah jenis anastesi yang dilakukan ,umur pasien, karena kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi dari hasil intervensi yang dilakukan.
(2) Eksklusi
Misalnya, dalam studi komperatif (kasus kontrol) yang mencari hubungan suatu faktor resiko dengan kejadian penyembuhan luka pasca operasi laparastomi, maka subjek dengan kelainan imunologis tidak boleh diikutsertakan dalam kelompok kasus.
3) Besar Sampel
Contoh besar sampel
Kita ingin menduga proporsi pembaca surat kabar dari populasi 3.000 orang. Presisi ditetapkan di antara ± 5% dengan tingkat kepercayaan 95% (Z = 2). Berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawabannya:
3000
n =
(3000)(0,05)2+ 1
3000
=
(3000x0,05) + 1
= 353
4) Tehnik Sampel
(1) Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya
(2) Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan
Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak.
(3) Cluster Sampling atau Sampel Gugus
Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja.
(4) Systematic Sampling atau Sampel Sistematis
Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25.
(5) Area Sampling atau Sampel Wilayah
Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat.
(6) Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.
Misalnya, Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut.
(7) Purposive Sampling
Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja
(8) Snowball Sampling – Sampel Bola Salju
Misalnya, Akan diteliti mengenai pendapat mahasiswa terhadap penmberlakuan kurikulum baru diSTMIK Dian Nusantoro sampel ditentukan sebesar 100 mahasiswa.
Peneliti menentukan sampel awal 10 mahasiswa masing-masing mencari 1 orang mahasiswa lain untuk diminta pendapatnya .dan seterusnya sehingga diperoleh sampel dalam jumlah 100 mahasiswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar